Karena bahayanya, di banyak negara, antara lain Perancis, Jepang, dan Australia, asbes dinyatakan sebagai bahan terlarang. Sedangkan di Indonesia, asbes malah digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk sebagai bahan material rumah tinggal seperti plafon, atap, dll.
Asbes merupakan mineral yang berbentuk serat-serat yang mudah terpisah. Ukuran sebuah serat asbes sangat kecil dan halus. Karena itulah mudah beterbangan di udara. Apabila terhirup, asbes akan segera masuk ke dalam rongga pernapasan, kemudian menimbulkan berbagai kerusakan.
Setidaknya ada tiga penyakit yang disebabkan oleh debu asbes. Pertama adalah mesothelioma, yaitu kanker ganas yang mengenai selubung paru-paru, selubung perut, atau selubung jantung. Kedua adalah kanker paru-paru, dan yang terakhir penyakit asbestosis. Penyakit-penyakit ini seringkali fatal dan berujung pada kematian.
Mesothelioma
Debu asbes yang telah masuk ke paru-paru, akan bergerak hingga sampai pada selubung paru-paru. Di sini, debu asbes akan merusak DNA dari sel selubung paru (mesothelium), akibatnya kontrol pertumbuhan sel terganggu. Sel yang telah menjadi abnormal akan membelah tak terkendali, kemudian berekspansi dan merusak jaringan di sekitarnya.
Kanker Paru-Paru
Mekanisme timbulnya kanker paru-paru akibat debu asbes hampir sama dengan kanker mesothelioma. Bedanya, yang terkena adalah dinding saluran napas (bronchiolus). Awalnya kerusakan hanya terbatas pada paru-paru, kemudian pada stadium lanjut dapat bermetastasis ke organ tubuh lainnya.
Asbestosis
Debu asbes juga dapat menyebabkan iritasi pada jaringan dan selubung paru-paru. Akibat iritasi, akan terbentuk jaringan parut yang kaku. Jaringan ini perlahan-lahan akan meluas dan menebal sehingga paru-paru tidak bisa lagi mengembang dan mengempis seperti layaknya paru-paru normal. Keadaan ini akan menimbulkan berbagai macam gejala seperti sulit bernapas, napas pendek, batuk, dan nyeri dada. Selain itu, aliran darah paru-paru juga akan terhambat, memaksa jantung untuk bekerja lebih keras. Lama kelamaan, jantung akan membesar. Timbulnya jaringan parut di paru-paru akibat debu asbes disebut asbestosis.
NB: Anda suka dengan artikel ini? Silakan bagi ke Teman Facebook Anda. Caranya, cukup KLIK disini. Terima kasih ...
Baca juga:



5 komentar:
good news
Ya Allah karena kemiskinan dan kebodohan membuat orang-orang gak perduli terhadap bahaya asbes,terbukti masih banyak yng menjual dan memakainya? dan pemerintah hanya diam saja!!!
Wajib untuk kita semuanya berbicara dan membuat pemerintah mendengar......
sebetulnya harus dijelaskan juga. karna ada berbagai macam asbes. bahasa awamnya ada asbes putih, coklat dan biru. dan setahu saya bahan yg digunakan untuk bahan bangunan itu asbes putih yang bukan termasuk bahan berbahaya. seperti yang anda sebutkan. atau masih sangat aman untuk digunakan. negara negara yang tidak menggunakan asbes itu negara yang memang tidak mempunyai sumberdaya alam asbes. yang saya takutkan hanya semata2 bisnis sehingga ada kepentingan lain dalam pengungkapan fakta tersebut dan hanya merugikan bangsa ini. dimana banyak industri kita yang masih memproduksi mempergunakan asbes. karena belum terbukti secara ilmiah bahwa asbes putih itu seperti asbes yg lain. bahkan bahan pengganti yang negara2 tersebut banggakan belum ada hasil penelitiannya bahwa bahan tersebut 100% aman. menurut saya asbes putih itu tidak berbahaya sama sekali. kekurangannya hanya masalah desain. coba kita fikirkan apakah bahan pengganti tersebut 100% aman. jangan2 begitu mereka tidak bisa produksi. baru dikeluarkan faktanya bahwa bahan tersebut berbahaya. . .kebetulan saat ini topik tersebut menjadi pembicaraan serius di kampus kami. FKM UI . TERIMAKASIH
Kamis, 02 Maret 2006
Republika
Asbes Putih Dinilai tak Berbahaya
JAKARTA -- Asbes putih (chrysotile) tidak berbahaya untuk kesehatan. Pakar toksin dari City University of New York, Dr David M Bernstein, Rabu (1/3), di Jakarta, mengatakan bahwa serat chrysotile dapat hilang dari paru-paru dalam tempo maksimal 11 hari.
Riset Bernstein mengungkapkan, bahwa pelapis terluar chrysotile yang berbahan magnesium terbukti amat mudah direduksi oleh sel machropage pada gelembung paru (alveolous). Riset malah menunjukkan bahwa paparan 5.000 kali chrysotile di atas ambang batas WHO dalam tempo singkat tak menunjukkan respons patologi. ''Oleh sebab itu, isu bahwa asbes putih dapat memicu penyakit paru-paru atau kanker adalah keliru,'' kata Bernstein.
Menurut Bernstein, yang berbahaya adalah serat amphiboles yang terdapat pada asbestos biru, cokelat, atau abu-abu. Riset Bernstein memperlihatkan, serat jenis ini dapat bertahan selama lebih dari 466 hari sampai tak terbatas. ''Ketika bertahan lama, ia dapat memicu kanker,'' paparnya.
Chrysotile terdapat pada produk-produk campuran dengan semen, seperti asbes untuk bangunan.
(imy )
Poskan Komentar