Slider 1 mini Slider 2 mini

Tuesday, September 1, 2015

Lembaran Untuk Bidadari

Filled under: ,

Sayang, saat tadi pagi dirimu meminta abang membuat sebuah tulisan untukmu, abang agak tersentak, kaget dan bingung. Permintaanmu ini adalah permintaan terberat sepanjang 20 hari usia pernikahan kita. Bagaimana tidak. Abang harus menuliskan semua cerita luar biasa tentangmu dan tentang kita. Abang harus menguraikan perjalanan cinta kita yang mengharu biru.

Sayang, abang bukan pria puitis yang pintar merangkai kata-kata manis. Tulisan ini hanya serpihan memori yang saat ini terangkai, terekam dalam unit terkecil yang dihantar sel sel neuron manusia biasa ini.

Sayang, sebuah kesyukuran dan karunia yang sangat besar dari Allah ketika abang bisa mengenal dirimu. Engkau tidak hanya anggun, tetapi juga menawan. Tutur katamu halus dan menenangkan hati membuat abang tidak bosan mendengarkan setiap untaian kata yang engkau ucapkan. Engkau sering bercerita tentang kisahmu dengan sahabat karibmu yang sepertinya sangat mewarnai hidupmu dengan kebahagiaan. Abang ingin menjadi orang yang lebih dari sekedar sahabatmu karena abang ingin hidupmu lebih dari sekedar bahagia. Kebahagiaan diatas kebahagiaan. Kebahagiaan tanpa batas, tanpa kondisi, dan tanpa syarat. Kebahagiaan yang akan tetap ada, walaupun abang atau kita berdua telah tiada. Kebahagiaan yang dirasakan manfaatnya oleh anak dan cucu kita. Kebahagiaan yang juga bisa dinikmati oleh orang lain di sekitar kita.

Sayang, keputusan untuk menjalani hidup bersamamu bukan keputusan sederhana. Dengan mengucapkan janji ilahiah yang menggetarkan 'arasy-Nya serta disaksikan para malaikat-Nya, abang sadar sepenuhnya dengan tanggung jawab yang memberatkan punggung ini. Tanggung jawab untuk membuatmu tetap istiqomah di jalan-Nya, tanggung jawab untuk membuatmu tetap dekat dengan ayat-ayat cinta-Nya, tanggung jawab untuk membahagiakanmu dunia dan akhirat, tanggung jawab untuk bisa membawa keluarga kita menjadi penduduk surga, tanggung jawab yang tidak bisa ditunaikan dalam masa yang singkat dan usaha yang sederhana. 

Sayang, dirimu adalah secercah cahaya surga yang datang menerangi kehidupan abang. Tanpamu dinda, abang merasakan gulita. Engkau datang membawa cahaya qurani. Membantu abang untuk menjadi hamba yang rabbani. Mendekatkan diri dengan kalimat-kalimat ilahi, kalimat cinta dari Sang pemilik cinta sejati. 

Sayang, dalam 20 hari usia pernikahan kita, Allah telah mengajarkan abang banyak hal tentang dirimu. Dalam tangis, tawa, dan canda kita, abang mendapati keunikan dan keindahan pada dirimu. Engkau selalu berusaha membuat abang merasakan kenyamanan dan merasakan kebahagiaan. Tapi, sebenarnya sayang, abang akan nyaman dan bahagia saat dirimu juga merasakannya. Jangan pernah bersedih sayang karena itu membuat abang malu pada-Nya karena telah menghilangkan senyuman dari hambanya, sang penjaga wahyu. Tetaplah tersenyum karena itulah yang menyejukkan pandangan mata. Tetaplah tersenyum karena itulah perhiasan terindah.

Sayang, ingatkah kamu, saat kita berjalan berdua, menelusuri jalanan panas berdebu kota jakarta, menemanimu menunaikan misi ilahiah, mengenal saudara-saudara dan guru kehidupanmu. Abang memperhatikan senyuman indah merekah di wajahmu. Ya Allah, berkahilah ia dengan cahaya pada setiap senyumannya.

Sayang, ingatkah kamu saat engkau menangis, melepas perpisahan kita sejenak ? Abang lebih sedih dan lebih berat meninggalkan dirimu. Tapi, abang yakin ada Allah yang akan selalu mampu membersamaimu. Maka, jangan pernah lupakan Ia. Karena mungkin abang tak selamanya bisa membersamaimu.

Sayang, saat engkau bertanya,

"Abang, kita makan sepiring berdua bukan karena hidup kita prihatin kan bang ?" Bukan sayang. Ini bukan karena keprihatinan hidup, tapi karena abang ingin menjalin rasa yang lebih kuat denganmu. Berbagi setiap yang abang miliki dengan dirimu. Merasakan rasa yang sama, menikmati sesuatu bersama, merasakan nikmat Allah dalam kebersamaan denganmu.

Sungguh sayang, abang ingin menjadikanmu belahan jiwaku seperti yang disampaikan Rasulullah saw,
Dari Anas ra, Nabi saw bersabda, "Sesungguhnya para istri adalah belahan (jiwa) para suaminya." (HR. Al-Bazzar)
 
Tulisan ini belum berakhir sayang karena kisah kita masih akan berlanjut, hingga ajal menjemput...


Tulisan yang ditulis dengan mata yang berkaca-kaca mengingatmu,




                                                                                                    Dari Belahan Jiwamu,



                                                                              Jakarta, 17 Dzulqaidah 1436 H / 1 September 2015 M

Posted By Freelance Writer3:03 AM

Monday, August 31, 2015

Cinta Tanpa Batas Dimensi

Filled under: ,

Beberapa waktu lalu, istri saya bercerita tentang kakek nenek yang ditemuinya di perjalanan. Tampak suasana cinta diantara mereka yang masih terjalin erat. Berduaan berjalan di jalanan penuh debu, dibawah teriknya matahari, memikul beban kehidupan mereka bersama. Seolah, cinta mereka tak habis dimakan usia. Di saat yang lain, saya mendapati pasangan suami istri yang sudah kehilangan "rasa" terhadap pasangannya hanya karena bosan merawat pasangannya yang terbaring sakit di sebuah Rumah Sakit.

Itulah dua bentuk kisah cinta manusia dan kebanyakan orang memiliki cinta seperti kisah yang kedua. Mereka mempunyai rasa cinta berdasarkan standar masing-masing. Ada ukuran terhadap cinta nya. Ada dimensi yang membatasi cintanya. Sehingga saat semua kondisi, ukuran, dan dimensi itu berubah, maka besaran cintanya juga akan berubah. Saat pasangan tak lagi elok rupanya, saat pasangan sudah semakin merepotkannya, saat pasangan tak lagi membersamainya, saat mereka sudah terpisahkan oleh dimensi ruang dan waktu, maka seolah-olah kadar cintanya juga berubah.

Cinta sejati harusnya tak mengenal batasan-batasan itu. Rasulullah saw bersabda "Bertaqwalah kamu dimanapun kamu berada...(HR. Tirmidzi)" yang menunjukkan tidak ada dimensi waktu dan ruang yang membatasi cinta orang yang bertakwa kepada Allah swt.

Di hadits yang lain, dari Abdullah bin Umar, Rasulullah saw bersabda, "Tidak boleh iri kecuali pada dua orang: Orang yang dikaruniai oleh Allah Al-Quran, lalu ia membacanya sepanjang malam dan siang. Dan orang yang dikaruniai oleh Allah harta, lalu ia menginfakkannya sepanjang malam dan sepanjang siang (HR. Bukhari Muslim). Tergambar tidak ada batasan dimensi waktu pada orang-orang yang mencintai Al-Quran. Ia akan membaca "surat cinta" dari Allah itu sepanjang siang dan malam, tanpa batasan waktu.

Maka, agar rasa cinta itu tak berbatas, kita harus menyandarkannya pada sesuatu yang tidak memiliki batasan. Seorang suami seharusnya mencintai istri bukan karena sesuatu yang mempunyai batasan dan dimensi. Agar saat mereka terpisahkan oleh jarak, waktu, bahkan ajal, jiwa mereka akan tetap menyatu. Karena jiwa adalah bagian metafisik dari manusia yang tidak mempunyai batasan dan dimensi. Karena yang sejati itu tidak memiliki dimensi, tidak ada ukuran, tidak ada standar. Sehingga tidak ada yang bisa mempengaruhi cinta seorang kecuali hanya cinta itu sendiri.


"Tulisan ini saya persembahkan buat Allah yang mencintai hambanya tanpa syarat, buat orang tua yang cintanya tanpa Batas, buat saudaraku yang cintanya menginspirasi, dan buat isteriku yang ingin kucintai tanpa batasan dimensi."

Posted By Freelance Writer1:10 AM

Sunday, August 30, 2015

Pelayanan Kesehatan Gratis dan Berkualitas, Mungkinkah ?

Filled under:

Beberapa waktu lalu saya menyaksikan tayangan film dokumenter yang berjudul "Sicko" yang dibuat oleh Mike Moore. Tayangan yang sangat inspiratif, yang bercerita tentang buruknya sistem pelayanan kesehatan di Amerika Serikat. Semua pelayanan kesehatan yang nggak berkualitas bagi para peserta asuransi kesehatan ; mulai dari pelayanan di rumah sakit yang terkesan sangat lambat , Obat-obatan yang mahal. Bahkan pembuangan pasien dari rumah sakit saat mereka tidak mampu lagi membayar biaya rumah sakit. Padahal para peserta asuransi kesehatan baik dari pemerintah maupun non-pemerintah.

Pelayanan itu justru berbanding terbalik dengan pelayanan kesehatan di negara lain. Pelayanan kesehatan seperti di negara Kanada, Inggris, Prancis, bahkan di negara "dunia ketiga" Kuba jauh lebih baik dari pelayanan kesehatan di Amerika Serikat. Di negara-negara ini mereka mendapatkan pelayanan kesehatan yang sangat murah, bahkan cenderung gratis terutama para peserta asuransi kesehatan pemerintah. Di Inggris, para pengguna asuransi kesehatan pemerintah diberikan rawat inap gratis dengan pelayanan yang bekualitas bahkan diberi ongkos pulang jika pasien tidak punya biaya buat pulang. Mereka-para penanggung jawab kesehatan Inggris- mengatakan kriteria yang megijinkan anda keluar (red. check out dari Rumah Sakit) adalah bukan kalau Anda sudah bayar, tapi apa Anda sudah cukup sehat untuk pulang dan apa Anda pergi ke tempat yang aman. Obat-obat yang mereka dapatkan pun cenderung sangat murah bahkan di Inggris, pasien bisa mendapatkan obat secara gratis bila berumur kurang dari 16 tahun atau lebih dari 60 tahun (usia non-produktif). Sebuah bentuk pelayanan yang unbelievable how amazing they are.

Posted By Freelance Writer11:03 PM
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...