Slider 1 mini Slider 2 mini

Thursday, April 27, 2017

Pemberian Steroid Tidak Mempercepat Penyembuhan Radang Tenggorokan Akut

Filled under:

Steroid Pada Radang Tenggorokan
Pemberian steroid dosis tunggal ternyata tidak cukup untuk mengatasi gangguan radang pada tenggorokan. Terapi ini juga ternyata tidak cukup membantu memperbaiki kondisi pasien lebih cepat. Hal ini disimpulkan berdasarkan data hasil penelitian "randomized-control-trial" yang dilakukan oleh Gail Nicola Hayward, PhD, dari University of Oxford, Inggris yang diterbitkan melalui JAMA tanggal 18 April.

Berdasarkan hasil penelitian ini, didapatkan bahwa pasien dengan gangguan radang tenggorokan akut tetap perlu mendapatkan terapi antibiotik. Dalam pengamatan 24 jam, pasien yang mendapat terapi steroid tidak mengalami perbedaan perbaikan radang tenggorokan akut yang signifikan bila dibandingkan dengan mereka yang medapat plasebo, kata Gail Nicola Hayward, PhD.

Pemberian dosis tunggal steroid pada pasien radang tenggorokan memang memiliki angka proporsi penyembuhan yang cukup signifikan. Namun, dalam jumlah objek yang banyak (n=12) hasil studi ini menunjukkan bahwa tidak dianjurkan untuk memberikan steroid sebagai terapi rutin di fasilitas kesehatan primer atau faskes tingkat pertama yang merupakan tempat diberikannya terapi awal pasien.

Dalam peenltian lainnya yang dilakukan oleh Dr Hayward dan koleganya menunjukkan bahwa dengan pemberian kortikosteroid dan antibiotik secara signifikan meningkatkan angka kesembuhan pasien radang tenggorokan akut dalam 24 jam. Sementara dalam penelitian ini, Dr. Hayward dan tim ingin mencari tahu tingkat efektivitas pemberian terapi steroid dosis tunggal pada pasien yang tidak perlu segera mendapatkan terapi antibiotik. Walaupun dari hasil studi ini ternyata pasien radang tenggorokan akut tetap memerlukan pemberian antibiotik sebagai tatalaksana awal.

Penelitian ini dilakukan pada 565 objek yang memenuhi kriteria penelitian, dengan 288 objek mendapatkan terapi dosis tunggal 10 mg deksamethasone dan 277 objek mendapat terapi plasebo. Tidak ada perbedaan yang signifikan pada hasil penelitian dari perbedaan tingkat keparahan radan, ada atau tidaknya temuan streptokokus pada swab.

Secara sedrhana, studi ini menunjukkan bahwa pemberian steroid tidak mengurangi beratnya gejala pasien, lama terapi, dan juga tidak mengurangi jumlah antibiotik yang digunakan. Walaupun memang terlihat adanya peningkatan peluang kesembuhan dalam 48 jam, namun dalam konteks efek samping terapi steroid jangka pendek dan jangka panjang, hal ini tidak memiliki signifikansi dalam tinjauan klinis, menurut Dr. Hayward.

Radang tenggorokan adalah penyebab umum datangnya pasien ke fasilitas kesehatan primer (di United States tercatat 6,6 juta pasien /per tahun berdasarkan temuan investigator). "Kami tahu, sebagian besar gangguan radang tenggorokan bisa sembuh tanpa pemberian antibiotik, namun dokter keluarga meresepkan antibiotik pada lebih dari setengah jumlah pasien yang datang dengan keluhan radang tenggorokan," Dr. Hayward melanjutkan,"Semakin banyak antibiotik yang Anda konsumsi, maka akan semakin besar resiko terjadinya resistensi terhadap antibiotik di masa yang akan datang, sehingga penting bagi para peneliti untuk menemukan solusi terapi alternatif untuk radang tenggorokan yang tidak menggunakan antibiotik."


Referensi :


Lihat jurnalnya disini


Artikel Lainnya


loading...


Posted By Freelance Writer8:38 PM

Monday, April 24, 2017

Permenkes 2017 Mengenai Revisi Imunisasi - Jadwal Imunisasi, Jenis Imunisasi, dan lainnya

Revisi Kebijakan Imunisasi
Permenkes 12/2017 tentang Imunisasi sebagai revisi atas Permenkes nomor 42/2013.

Jenis imunisasi sesuai permenkes masih sama, terdiri atas Imunisasi terhadap penyakit: hepatitis B; poliomyelitis; tuberkulosis; difteri; pertusis; tetanus; pneumonia dan meningitis yang disebabkan oleh Hemophilus Influenza tipe b (Hib); dan campak.

Sedangkan Imunisasi lanjutan diberikan pada:

* anak usia bawah dua tahun (Baduta);
* anak usia sekolah dasar; dan
* wanita usia subur (WUS).

Imunisasi lanjutan yang diberikan pada Baduta terdiri atas Imunisasi terhadap penyakit difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B, pneumonia dan meningitis yang disebabkan oleh Hemophilus Influenza tipe b (Hib), serta campak.

Sedangkan Imunisasi lanjutan yang diberikan pada anak usia sekolah dasar terdiri atas Imunisasi terhadap penyakit campak, tetanus, dan difteri.

Imunisasi lanjutan yang diberikan pada anak usia sekolah dasar diberikan pada bulan imunisasi anak sekolah (BIAS) yang diintegrasikan dengan usaha kesehatan sekolah.

Imunisasi lanjutan yang diberikan pada WUS terdiri atas Imunisasi terhadap penyakit tetanus dan difteri.

Pada pasal 11, disebutkan jenis Imunisasi Pilihan dapat berupa Imunisasi terhadap penyakit: pneumonia dan meningitis yang disebabkan oleh pneumokokus; diare yang disebabkan oleh rotavirus; influenza; cacar air (varisela); gondongan (mumps);campak jerman (rubela);demam tifoid;hepatitis A;kanker leher rahim yang disebabkan oleh Human Papillomavirus; Japanese Enchephalitis;herpes zoster; hepatitis B pada dewasa; dan demam berdarah.

Pada pasal 15, dijelaskan berbagai perangkat Imunisasi Program, antara lain meliputi: Vaksin; ADS; Safety Box; Peralatan Anafilaktik; peralatan Cold Chain; peralatan pendukung Cold Chain; danDokumen Pencatatan Pelayanan Imunisasi.

Peralatan Cold Chain terdiri atas:

* Alat penyimpan Vaksin meliputi cold room, freezer room, vaccine refrigerator, dan freezer;

* Alat transportasi Vaksin meliputi kendaraan berpendingin khusus, cold box, vaccine carrier, cool pack, dan cold pack; dan

* Alat pemantau suhu, meliputi termometer, termograf, alat pemantau suhu beku, alat pemantau/ mencatat suhu secara terus-menerus, dan alarm.

Peralatan pendukung Cold Chain f meliputi automatic voltage stabilizer (AVS), standby generator, dan suku cadang peralatan Cold Chain.

Sesuai lampiran peraturan menteri kesehatan republik indonesia nomor 12 tahun 2017 tentang penyelenggaraan imunisasi, dapat kita kutip beberapa hal berikut:

Imunisasi diberikan pada sasaran yang sehat untuk itu sebelum pemberian Imunisasi diperlukan skrining untuk menilai kondisi sasaran. Prosedur skrining sasaran meliputi:

* Kondisi sasaran;
* Jenis dan manfaat Vaksin yg diberikan;
* Akibat bila tidak diImunisasi;
* Kemungkinan KIPI dan upaya yang harus dilakukan; dan
* Jadwal Imunisasi berikutnya.


A. Batasan umur pemberian imunisasi Hepatitis Bdan pemberian jenis imunisasi Polio Injeksi (IPV) pada jadwal imunisasi rutin..

Hal ini dapat dilihat pada jadwal Pemberian Imunisasi Dasar sesuai permenkes ini sebagai berikut:

* Umur 0-24 Jam, imunisasi Hepatitis B
* Umur 1 bulan,imunisasi BCG, Polio 1
* Umur 2 bulan, imunisasi DPT-HB-Hib 1, Polio 2
* Umur 3 bulan, imunisasi DPT-HB-Hib 2, Polio 3
* Umur 4 bulan, imunisasi DPT-HB-Hib 3, Polio 4, IPV
* Umur 9 bulan, imunisasi Campak

Jadwal Imunisasi Terbaru - 2017



Melihat jadwal diatas, yang baru dari permenkes ini berupa standar usia imunisasi Hepatitis 0, menjadi umur < 24 jam (Permenkes lama < 7 hari).

Juga telah masuknya imunisasi IPV pada jadwal rutin imunisasi dasar.

Sementara imunisasi Measles Rubella (MR) yang tahun ini mulai dikampanyekan dan mulai diintroduksi di wilayah Jawa, menggantikan imunisasi campak, belum termasuk pada jadwal rutin imunisasi dasar.

Pada bab penjelasan Permenkes diterangkan beberapa hal berikut:


  • Pemberian Hepatitis B paling optimal diberikan pada bayi. Bayi lahir di Institusi Rumah Sakit, Klinik dan Bidan Praktik Swasta, Imunisasi BCG dan Polio 1 diberikan sebelum dipulangkan.
  • Bayi yang telah mendapatkan Imunisasi dasar DPT-HB¬Hib 1, DPT-HB-Hib 2, dan DPT-HB-Hib 3 dengan jadwal dan interval sebagaimana Tabel 1, maka dinyatakan mempunyai status Imunisasi T2.
  • IPV mulai diberikan secara nasional pada tahun 2016
  • Pada kondisi tertentu, semua jenis vaksin kecuali HB 0 dapat diberikan sebelum bayi berusia 1 tahun.

B. Selanjutnya, yang termasuk standar baru terkait imunisasi lanjutan.

Usia minimal pemberian imunisasi booster ini menjadi sama baik untuk imunisasi DPT-HB-Hib dan Campak, yaitu 18 bulan (Permenkes lama diberikan pada usia 24 bulan untuk Campak).

Sementara interval minimal pemberian imunisasi lanjutan setelah Imunisasi dasar yaitu 12 bulan dari DPT-HB-Hib 3 dan 6 bulan dari Campak dosis pertama.

Pemberian Imunisasi lanjutan pada baduta DPT-HB-Hib dan Campak dapat diberikan dalam rentang usia 18-24 bulan.

Baduta yang telah lengkap Imunisasi dasar dan mendapatkan Imunisasi lanjutan DPT-HB-Hib dinyatakan mempunyai status Imunisasi T3.

C. Imunisasi lanjutan pada Usia Anak Sekolah

Jadwal Imunisasi Lanjutan pada Anak Usia Sekolah Dasar (Pada Bulan Agustus dan November), sebagai berikut :
* Imunisasi Kelas 1 SD, berupa imunisasi Campak dan DT
* Imunisasi Kelas Kelas 2 SD berupa imunisasi Td
* Imunisasi Kelas 5 SD, berupa imunisasi Td

Yang baru dari jadwal diatas adalah pemberian imunisasi Td untuk anak Kelas 5 SD (Permenkes lama diberikan pada Kelas 3 SD).

Hal ini dilakukan berdasarkan hasil evaluasi dan penelitian terkait rentang masa efektif perlindungan vaksin.

Anak usia sekolah dasar yang telah lengkap Imunisasi dasar dan Imunisasi lanjutan DPT-HB-Hib serta mendapatkan Imunisasi DT dan Td dinyatakan mempunyai status Imunisasi T5.




Download File PDF Lengkap Permenkes 2017 disini :


Permenkes Nomor 12 Tahun 2017 Tentang Penyelenggaraan Imunisasi



Artikel Lainnya


loading...


Posted By Freelance Writer6:32 PM

Tuesday, December 27, 2016

Tips Mencegah Alergi Telur Pada Bayi (Hasil Penelitian)

Filled under:

NEW YORK (Reuters Health) - Pemberian sejumlah kecil telur yang dimasak dengan cara bertahap adalah cara yang aman dan efektif untuk mencegah alergi telur ayam pada bayi berisiko tinggi, yang merupakan hasil uji coba "Japaneses PETIT".

"Hasil kami menyediakan bukti kuat bahwa pengenalan awal makanan berpotensi alergi dapat dilakukan secara aman dengan memulai dari dosis kecil dan pencegahan alergi makanan dapat dicapai secara efektif dengan cara bertahap," para peneliti menulis dalam The Lancet, secara online 8 Desember 2016.

Tim peneliti melakukan uji coba random trial pada 147 bayi berusia 4 sampai 5 bulan yang mengalami "eczema (eksim/dermatitis)" dengan memberikan paparan terhadap telur atau plasebo. Mereka dalam "kelompok telur" diberi makan 50 mg bubuk telur yang dipanaskan setiap hari dari usia enam bulan sampai 9 bulan dan 250 mg per hari setelahnya sampai usia 12 bulan.

"Kami secara agresif melakukan treatment pada penderita "eczema" pada awal trial dan mempertahankan kontrol tanpa eksaserbasi selama periode intervensi," Dr. Osamu Natsume dari Pusat Nasional untuk Kesehatan Anak dan Pembangunan di Tokyo dan rekan-rekannya dalam catatan makalah mereka.

The Independent Data and Safety Monitoring Committee mengakhiri studi awal berdasarkan analisa sementara yang menemukan penurunan yang sangat signifikan dalam alergi telur pada "kelompok telur".

Hasil studi menunjukkan, alergi telur pada usia 12 bulan ditemukan pada 9% dari bayi pada "kelompok telur" (empat dari 47) dibandingkan dengan 38% dari bayi pada kelompok plasebo (18 dari 47), dengan "risk ratio" 0,22 (p = 0,0012).

Pada populasi analisis utama, lima dari 60 bayi (8%) pada "kelompok telur" dan 23 dari 61 (38%) pada kelompok plasebo memiliki alergi telur yang terkonfirmasi pada usia 12 bulan (RR, 0,22; p = 0,0001). Jumlah yang diperlukan untuk mengobati untuk mencegah satu kasus alergi telur adalah 3.40.

"Sejumlah kecil makanan padat aman," para peneliti menyimpulkan, "Bahkan untuk bayi yang peka, pendekatan bertahap ini praktis pada tingkat populasi karena bayi tidak discreening melalui "prick skin test", konsentrasi IgE serum, atau "challenge test" sebelum pengenalan terhadap alergen. Uji tambahan diperlukan untuk menguji pendekatan ini untuk pencegahan alergi makanan lainnya. Kontrol optimal eczema mungkin menjadi bagian integral dari program preventif untuk meminimalkan kemungkinan sensitisasi perkutan. "

Dalam sebuah komentar terkait, Dr. Graham Roberts dari University of Southampton di Inggris mencatat bahwa untuk sementara strategi preventif ini "terlihat efektif, kehati-hatian diperlukan bila hasil studi ini diinterpretasikan secara prematur. Misalnya, penulis dari tinjauan sistematis telah menyarankan bahwa uji coba tersebut melebih-lebihkan efek sebesar 50%. Juga, dengan sedikitnya participants penelitian yang diambil secara acak, dapat berarti bahwa efek samping yang penting mungkin saja belum terlihat. Menghentikan trial terlalu awal umumnya tidak dianjurkan."

Meskipun demikian, Dr Roberts menulis, "Hal yang menjanjikan bahwa dengan pemberian konsumsi telur masak dalam jumlah kecil yang diperkenalkan pada awal diet bayi mungkin menjadi strategi pencegahan yang efektif. Penelitian lebih lanjut diperlukan pada populasi yang lebih besar dengan diet yang berbeda dan paparan lingkungan untuk menunjukkan generalisasi dan keamanan strategi preventif populasi ini."

Penelitian tidak memiliki dana komersial.


SUMBER: http://bit.ly/2hAlulF dan http://bit.ly/2hBhW21

Posted By Freelance Writer10:11 PM

Saturday, December 17, 2016

Neurogenic Shock

Filled under:

Syok adalah kegagalan fungsi sirkulasi yang menyebabkan ketidakcukupan perfusi jaringan dan oksigenasi jaringan. Syok sendiri merupakan kondisi gawat darurat. Neurogenic shock (syok neurogenik) merupakan bentuk dari syok distributive.

Syok neurogenik merupakan bentuk dari syok distributive yang terjadi akibat gangguan pusat vasomotor. Sering juga disebut sebagai spinal shock.

ETIOLOGI

1. Trauma medula spinalis

2. Anastesi spinal

3. Anastesi umum

4. Kerusakan otak

ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM SARAF

Sistem saraf dibagi menjadi 2, yaitu :

1. Sistem saraf pusat ( SSP)
a. Otak
b. Medula spinalis
2. Sistem saraf tepi (PNS)
a. Sistem saraf somatik
b. Sistem saraf autonom
- Saraf simpatis (SANS)
- Saraf parasimpatis (PANS)










PATOGENESIS







DIAGNOSIS




PENATALAKSANAAN






Primery Survey

1. Airway
2. Breathing
3. Circulation
4. Disability
5. Exposure

PENANGANAN (Surgery)



KOMPLIKASI

1. Deep-Vein Thrombosis (DVT)

2. Multiple Organ Dysfunction
Syndrome (MODS)



Download dan Baca Versi Lengkap (Termasuk Referensinya) melalui link dibawah ini :



Posted By Freelance Writer1:08 AM

Monday, November 28, 2016

Memoar Siti Fadilah di Rutan Pondok Bambu

Siti Fadilah Supari
Oleh: dr. Ni Nyoman Indira*

JAKARTA- “Nomor urut 65-70!” Teriak petugas RUTAN dari pintu masuk. Saya beserta rombongan langsung bersiap masuk dan mengantri untuk mendapatkan giliran di periksa. Hari ini hari Kamis, hari dimana keluarga menjenguk sanak saudaranya yang berada di dalam. Hari dimana saya dan kerabat-kerabat saya yang lain pun menjenguk ibu ideologis kami.

Hari itu terlihat ramai seperti biasanya. Dari kejauhan tampak ibu kami sudah duduk sambil tersenyum menyambut kami dari kejauhan. Saya tepat duduk disampingnya dan beliau langsung berkata “Eh aku nulis surat loh buat kamu.. Nanti dibaca ya!” Begitu pesannya.

Saya menerimanya dengan sangat antusias sambil tersenyum penasaran apa isinya. Di dalam hati saya berkata, “Permata di dalam lumpur sekalipun akan tetap menjadi permata..”

Begitulah ibu kami, walaupun menjadi korban politik dan harus menjalani masa tahanan, beliau tetap memberikan manfaat untuk sekitarnya dan tetap menjalankan hobinya, menulis.

Selesai menjenguk beliau, aku pun langsung membaca isinya pelan-pelan..

Dear Indi,

Ibu sekarang di ruangan bersama dua orang yang lain. Lumayan, tidak banyak orang dalam satu kamar. Ibu masih melayang-layang, memikirkan hari demi-hari. Ibu masih berfikir apa kehendak Tuhan, ibu berada disini.

Tampaknya adaptasi fisik bukanlah masalah yang sulit untuk ibu. Bahkan ibadah ibu semakin terjaga. Ibu ingat bila diluar sana, alangkah banyak waktu yang sia-sia dalam ibadah. Keduniawian memang menyilaukan. Seolah-olah kita akan hidup seribu tahun padahal sewaktu-waktu kita bisa meninggalkannya begitu saja. Ibu belajar banyak hal disini.

Dunia seperti berhenti, dan ibu pun harus ikut berhenti, tidak ada yang bergerak. Daunpun tidak bergoyang karena angin juga berhenti. Hanya nafas yang masih terus hadir di antara detak jantung yang tidak pernah berhenti.

Ibu masih hidup, Indi..

Aah, bahkan irama jantung ibu tidak teratur. Memang sebelumnya ibu sudah lama memiliki riwayat Atrial Fibrilasi, yang tadinya bersifatparoxysmal, tetapi menjadi permanen di dua tahun terakhir.

Indi..

Hari ini, satu bulan penuh ibu ada di Pondok Bambu, suatu pengalaman yang sangat luar biasa. Ibu membayangkan Bung Karno yang pernah diasingkan di Bengkulu. Ibu juga membayangkan Pak Hatta yang diasingkan di Papua. Memang menyakitkan. Tetapi mereka lebih beruntung karena mereka adalah tahanan politik yang berjuang untuk bangsanya. Sedangkan ibu, dikriminalisasikan seperti sekarang ini.

Kadang ibu tidak percaya bahwa keadilan di negeri ini bisa dipermainkan seperti ini. Ibu juga tidak percaya bahwa hukum di negeri ini bisa diperjualbelikan seperti jual beli barang rongsokan. Sangat memalukan. Ibu sedih mengalami hal ini, tetapi lebih sedih lagi melihat kehancuran politik negeri kita sekarang ini. Ibu masih mengikuti beritanya di televisi.

What’s wrong dengan bangsa kita Indi ?

Demikian berharganya uang melebihi harga diri dan martabat sebagai manusia ? Apakah betul untuk memiliki semuanya harus berkuasa ? Dan untuk berkuasa harus punya uang dan untuk mendapatkan uang harus menghalalkan berbagai cara ?

Oh Indi...

Kata Qur’an, manusia adalah khalifah, at least bagi dirinya sendiri.

Tapi kita melihat bukan, banyak manusia yang sebenarnya hanya seekor domba. Lihatlah dia, harus dituntun kesana kemari demi kepentingan tuannya, dan hanya karena seonggok rumput kering, domba itu melakukannya!! Itulah komprador Indi...

Kamu jangan seperti mereka. Lihatlah saja dan jangan ikuti mereka..

Indi...

Konon diluar sana sedang terjadi puting beliung politik. Semua ingin menjadi penguasa tetapi tidak seorang yang ingin menjadi pemimpin. Seolah-olah tidak ada yang lebih mulia daripada menguasai negeri ini meski tanpa hati.

Bayaran untuk menjadi penguasa itu mahal sekali, Indi..Karena mereka harus menginjak rakyat yang semestinya dilindunginya. Belum lagi membayangkan neraka jahanamtelah menantinya kelak di akhirat nanti..
Mengerikan sekali...

Oh Tuhan, kirimkanlah pemimpin yang Engkau rahmati dan Engkau berkahi untuk negeri ini, sehingga bisa menjadi pemimpin yang rahmatan lil alaamiin, sehingga rakyat kecil tidak lagi lapar, sehingga rakyat kecil tidak bingung lagi. Mereka ingin hidup yang bermartabat, bukan hidup tanpa martabat, hanya saja sistem yang ada memaksa mereka untuk meninggalkan martabat mereka sebagai manusia.

Oh, tentang rakyat kecil Indi..

Ibu di dalam sini mendengar suatu pelajaran yang berharga. Pengalaman ibu satu minggu di ruang karantina sangat luar biasa. Ibu baru sadar bahwa ada lapisan masyarakat yang sangat tersiksa di negeri ini. Kita sudah merdeka 70 tahun Indi, tetapi cita-cita kemerdekaan ini hanya menjadi angan-angan bangsa kita. Alangkah banyaknya rakyat yang tidak merdeka dan jauh dari cita-cita kemerdekaan kita.

Indi..

Terpatri mereka di hati ibu..

Seorang perempuan, Desy namanya, mencuri handphone karena ibu nya sakit. Dia tertangkap warga dan di serahkan ke polsek dan dikirim ke Pondok Bambu tanpa tahun kapan diurus perkaranya. Lain lagi cerita Fanny yang ditangkap polisi karena calon suaminya mencuri uang 600ribu di pasar.

Oh Indi..

Neneng, seorang perempuan usia 30 tahun, dia dihukum karena dia hutang dengan tetangganya ketika melahirkan melalui operasi Caesar. Saat itu dia butuh 10 juta. Namun bunga hutangnya terus bertambah hingga menjadi 17 juta.Dia sudah cicil 2,7 juta dan dia sudah berjanji untuk mencicilnya. Sayang, ketika si bayi berumur 11 bulan, tiba-tiba dia diundang oleh tetangganya itu dan lanagsung dibawa ke polsek tanpa basa-basi. Dua minggu kemudian dia dipindahkan ke Pondok Bambu.

Ibu melihat bajunya basah di bagian dadanya karena air susunya yang masih terus mengalir. Dia bercerita bahwa iatidak tahu lagi bagaimana nasib bayinya, diberi minuman apakah bayinya. Air matanya mengalir deras seolah berlomba dengan tetesan ASI nya.

Hati ibu menangis Indi. Dulu, ketika ibu masih menjadi Menteri Kesehatan, ibu menggratiskan orang-orang seperti Neneng dan orang-orang tidak mampu lainnya bila melahirkan secara Caesar. Mereka bukan lah orang jahat, mereka orang miskin. Mereka bukan penipu tapi mereka memang miskin. Mereka miskin karena sistem, mereka miskin dengan terstruktur. Pemerintah belum berhasil memberikan mereka kesejahteraan, bahkan pekerjaan, Indi..

Apakah para elite negeri ini tidak menyadari bahwa nanti di akhirat akan ditanyakan apa yang telah kamu perbuat untuk rakyatmu ? Kenapa masih ada rakyat yang kelaparan? Atau masih ada rakyat yang mencuri karena tidak punya uang untuk makan ?

Indi, menjadi pemimpin itu tanggung jawabnya berat!!

Oh Indi..

Belum lagi tahanan narkoba. Mereka cantik dan muda, mestinya mereka bisa berkarya di luar sana. Tetapi mereka harus dikurung selama kurang lebih 4 tahun karena pemakai.Biasanya mereka terjebak dan bandarnya tetap selamat..Itulah negara kita, Indi..

Ooh, ada lagi cerita seorang ibu yang cantik. Sebutlah namanya Ibu Cynthia. Dia menangis ketika ada penyuluhan hukum oleh LBH. Matanya sembab. Dia baru sebulan ditahan dan baru seminggu disini. Dia ingin punya pengacara gratis.

Dia bercerita ketika itu anaknya mogok sekolah oleh karena harus membayar iuran ke sekolahnya sebesar 2,9 juta. Ibu nya pun kebetulan terkena stroke dan dikirim ke suatu rumah sakit. Dua-duanya butuh biaya. Maka dia pun mencari hutang kepada temannya yang terlihat kaya.

Dia kesana dan dijanjikan akan diberikan 10 juta bila berhasil mengantar suatu bungkusan ke seseorang. Baru beberapa menit dia berjalan, dia ditangkap polisi dan ternyata bungkusan tersebut isinya 200 INEX. Padahal jika seseorang membawa INEX >3 maka hukumannya akan lebih dari lima tahun penjara.

Bayangkan Ibu Cynthia harus menerima hal itu. Dia akan dihukum seumur hidup bahkan bisa divonis hukuman mati. Bayangkan hanya karena uang 10 juta. Dan dia melakukan hal tersebut untuk menyangkut hal yang sangat mendasar, yakni pendidikan dan kesehatan.

Andaikan negara kita betul-betul bisa menggratiskan pendidikan dan kesehatan, mungkin kesejahteraan rakyat akan meningkat nyata. Tetapi jangan harap, di mata kapitalis, justru kesehatan dan pendidikan adalah komoditi yang menggiurkan..”

Dua hal yang sangat berlawanan seperti siang dan malam, seperti gelap dan terang..

Maka begitu kamu menaruh hati pada rakyat kecil, maka otomatis kamu menjadi musuh kapitalis. Jika pemimpin berpihak kepada kapitalis berarti ya tidak ada hak bagi rakyatnya untuk hidup sejahtera. Indi, ibu terlalu jauh melamun.. Yang jelas, ibu melihat ketidak adilan terjadi justru pada lembaga hukum! Hukum yang seharusnya menjadi penjaga keadilan, justru menjadi komoditi dagang bahkan komoditi politik di negeri ini..

Indi,
Dari titik mana nasib bangsa ini bisa diperbaiki ?

Ah, Indi.. Ibu lelah menulis. Jam besuk sudah tiba, kau akan datang bukan ??

(Ditulis: 24 November 2016)

Sejenak aku menarik nafas dalam. Di sela hembusan nafas, tanganku langsung menghapus air mata yang membasahi pipi.

Hatiku menjerit.

Aku langsung berfikir dan membayangkan nasib para perempuan yang sebenarnya tidak bersalah. Mereka hanya lah korban dari sistem yang ada. Mengapa pemerintah tidak turun dan mencari tahu apakah yang terjadi kepada mereka hingga mereka terpaksa melakukan hal tercela ? Mengapa para elite justru diam saja melihat rakyatnya yang tidak jelas nasibnya ?

Allahu Robbi, aku pun juga langsung teringat kepada ibu ideologis ku. Ibu ideologis kami yang sampai saat ini belum ditemukan bukti fisik dalam perkaranya. Ibu ideologis kami yang lebih memikirkan nasib rakyat kecil dan negerinya sekalipun dirinya sakit dan mendekam di dalam penjara?Adakah yang yakin sepenuhnya bahwa beliau bersalah ?

Keadilan bukan hanya milik para penguasa. Keadilan adalah milik semua orang yang ada di negeri ini. Begitupun dengan mereka dan ibu kami yang menjadi korban politik. Aku pun semakin terpacu dan tak gentar, karena aku yakin bahwa Tuhan

*Penulis adalah Koordinator Sahabat Siti Fadilah




Artikel Lainnya


loading...



Posted By Freelance Writer3:58 PM
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...