Medical Errors - Penyebab Kematian Tertinggi Ketiga di Amerika Serikat - Catatan Dokter

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Medical Errors - Penyebab Kematian Tertinggi Ketiga di Amerika Serikat

Share This
Dokter dan segala perlengkapan yang digunakannya sering dianggap sebagai "Dewa Penyelamat" bagi orang sakit. Namun hal itu tidak sepenuhnya benar. Di Amerika Serikat, negara yang dianggap maju dari segi teknologi kedokteran bahkan merupakan masyarakat dengan budaya ilmiah serta sistem pendidikan yang bagus, ternyata juga tidak bisa menghasilkan produk dokter yang betul-betul mumpuni.

Dalam sebuah laporan jurnal ilmiah, BMJ, disebutkan bahwa "Medical errors" sebagai penyebab kematian ketiga di negara adidaya ini., setelah penyakit jantung dan kanker. Penulis, Martin Makary MD MPH yang merupakan profesor di bidang bedah dari Johns Hopkins University School of Medicine in Baltimore, menyebutkan bahwa "medical errors" seharusnya menjadi prioritas utama untuk dijadikan penelitian.

Namun, informasi yang akurat dan transparant dari kejadian "medical Errors" tidak tercatat secara akurat dalam catatan kematian yang biasanya didokumentasikan CDC untuk me-rangking penyebab kematian dan menetapkan prioritas dalam penanganan masalah kesehatan. Penyebab kematian yang dicantumkan dalam sertifikat kematian biasanya dibuat berdasarkan pengkodean yang sudah ditetapkan dalam aturan ICD sehingga penyebab kematian seperti kesalahan manusia dan sistem tidak tercantum dalam catatan.

Hal ini tidak hanya terjadi di Amerika Serikat. Berdasarkan WHO, 117 negara mengkode statistik mortalitas berdasarkan aturan ICD sebagai indikator status kesehatan di negaranya.

Penulis menganjurkan pelaporan yang lebih baik agar bisa mengetahui seberapa besar skala kesalahan dan merumuskan strategi untuk mengatasinya.

"Dr Makary mengatakan, "Saat ini, kanker dan penyakit jantung mendapatkan banyak perhatian tetapi karena "medical errors" tidak muncul dalam daftar CDC, akhirnya permasalahan ini tidak mendapatkan pendanaan dan perhatian yang cukup.

Beliau menambahkan : "Insidensi rates untuk kematian yang disebabkan langsung oleh perawatan medis belum diakui dalam metode standar untuk mengumpulkan data statistik nasional. Sistem koding kesehatan didesain untuk memaksimalkan penagihan untuk jasa dokter bukan untuk mengumpulkan data statistik kesehatan nasional."

Peneliti melakukan memeriksa 4 penelitian yang menganalisis data laju kematian dari tahun 2000 sampai tahun 2008. Lalu, dengan menggunakan data admisi rumah sakit tahun 2013, mereka memprediksi, berdasarkan 35.416.020 rawat inap, 251.454 kematian disebabkan oleh "medical error".

Angka itu merupakan 9,5% dari total jumlah kematian tiap tahun di US dan menjadikannya lebih banyak dari penyebab kematian ketiga sebelumnya, respiratory distress.

Strategi Untuk Melakuka  Perubahan

Penulis menyarankan beberapa perubahan :

1. Membuatnya lebih Visible.
Beliau mengatakan dengan membuat kesalahan itu lebih visible akan membuat efeknya dapat lebiih dipahami. 
2. Mencantumkan dalam sertifikat kematian pertanyaan apakah komplikasi yang menyebabkan kematian pasien dapat dicegah.

3. Rumah Sakit menyelenggarakan investigasi independen yang cepat dan efisien terhadap kematian untuk menentukan apakah terdapat kesalahan medis mempunyai peran dalam penyebab kematian.

4. Standardisasi pengumpulan data dan pelaporan juga diperlukan untuk akurasi gambaran nasional terhadap permasalahan.

Jim Rickert, MD, seorang ortopedist di Bedford, Indiana, dan presiden dari  The Society for Patient Centered Orthopedics, tidak terkejut dengan fakta ini. Beliau bahkan mengatakan, hal itu tidak hanya terjadi dalam penanganan pasien rawat jalan, tapi juga pada pasien rawat inap. Menurut beliau, kebanyakan orang menganggap remeh resiko kesalahan dalam penanganan medis. Beliau juga setuju dengan penambahan informasi dalam sertifikat kematian yang memberikan informasi adanya kesalahan medis.

Penulis mengakui, kesalahan manusia memang merupakan sesuatu yang tidak dapat terelakkan, namun kita dapat lebih baik dalam menilai masalah, untuk merancang sistem yang lebih aman sehingga dapat mengurangi frekuensi, visibilitas, dan konsekuensi medical errors."

Penulis juga menambahkan, kesalahan yang terjadi kebanyakan tidak disebabkan oleh kapasitas dokter yang jelek namun karena sistem atau SOP penanganan pasien yang gagal.

BMJ. Published online May 3, 2016.


Sumber : Medscape

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Pages