Traumatologi Forensik : Kekerasan Benda Tumpul - Catatan Dokter

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Traumatologi Forensik : Kekerasan Benda Tumpul

Share This
Traumatologi adalah ilmu yang mempelajari tentang luka dan cedera serta hubungannya dengan berbagai kekerasan (rudapaksa), sedangkan yang dimaksud dengan luka adalah terjadinya diskontinuitas jaringan tubuh akibat kekerasan. (1)

Berdasarkan sifat serta penyebabnya, kekerasan dapat dibedakan atas kekerasan yang bersifat (1,2,3) ::
  • Luka karena kekerasan mekanik : Benda tajam, tumpul dan senjata api
  • Luka karena kekerasan fisik : Luka karena arus listrik, petir, suhu (tinggi dan rendah), Perubahan tekanan udara, akustik, radiasi.
  • Luka karena kekerasan kimiawi : Asam dan Basa.
Luasnya pembahasan topik sehingga untuk tulisan kali ini, kami akan membatasi pembahasan pada trauma benda tumpul. Mudah-mudahan Allah masih berkenan memberikan kami kesempatan untuk membahas topik lainnya di tulisan yang akan datang.


Luka Akibat Benda Tumpul

Luka akibat benda tumpul terjadi akibat benda yang memiliki permukaan tumpul. (1,2)

Faktor – Faktor yang mempengaruhi keparahan benturan (2,3) :

  • Usia
  • Besarnya Kekuatan Kekerasan
  • Kondisi benda Penyebab (Karet, Kayu, Besi, Benda yang datar)
  • Kondisi dan Jenis jaringan (Jaringan Ikat Longgar, Jaringan Lemak)
  • Waktu Hantaran Energi Tumbukan
  • Luas permukaan objek yang terkena
  • Kerapuhan pembuluh darah dan Kondisi medis tertentu (Hipertensi, Penyakit Kardiovaskuler, Diatesis Hemoragik,Sirosis, Konsumsi obat-obatan tertentu)


Pada bayi, hematom cenderug lebih mudah terjadi karena sifat kulit yang longgar dan masih tipisnya jaringan lemak subkutan, demikian pula halnya dengan orang dengan usia lanjut yang memiliki lapisan lemak sub kutan yang menipis dan pembuluh darah yang kurang terlindung.(1,3)

Bila senjata yang digunakan patah pada saat tumbukan dengan objek, maka energi yang dihasilkan untuk menimbulkan jejas akan semakin kecil karena sebagian energi digunakan untuk untuk mematahkan senjata yang digunakan. Begitupula, bila tubuh bergerak bersama pukulan saat tumbukan terjadi akan mengakibatkan peningkatan waktu hantaran energi benturan sehingga menurunkan dampak tumbukan.(3)

Dengan jumlah energi yang sama, semakin luas area tumbukan, maka semakin kecil tingkat keparahan luka. Luasnya area yang terkena dampak tumbukan juga dipengaruhi oleh kondisi benda penyebab. Sebagai contoh, bila benda yang digunakan adalah benda yang berpermukaan datar seperti papan, maka energi akan berdifusi ke seluruh permukaan benda penyebab sehingga akan menghasilkan jejas yang lebih ringan daripada permukaan benda yang runcing atau meruncik (Penulis : Ini sejalan dengan konsep fisika dimana besarnya gaya tekan (P) berbanding lurus dengan gaya (F), namun berbanding terbalik dengan luas permukaan (A) benda yang terkena tumbukan).(3)

Luka yang dapat terjadi (1,2,3) :

1. Memar (Kontusio, Hematom Injury)
2. Luka Lecet (Ekskoriasi, Abrasi)
3. Luka Retak, Robek atau Koyak (Vulnus Laseratum)
4. Fraktur Sistem Rangka

Namun tetap perlu diperhatkan bahwa jejas yang muncul bisa lebih dari satu kategori luka. Sebagai contoh luka robek bisa terdapat memar disekitarnya. Jadi, sangat diperlukan ketelitian dalam analisa luka.(3)

1. Luka Memar (Kontusio)

Merupakan perdarahan di daerah jaringan lunak bawah kulit yang muncul karena ruptur pembuluh darah baik kapiler maupun vena yang diakibatkan oleh trauma / benturan dengan benda tumpul seperti pukulan dengan tangan, jatuh pada permukaan yang datar , cedera akibat senjata tumpul, dan lain-lain. Pada jenis luka ini, terjadi ektravasasi pembuluh darah dan mngakibatkan darah merembes ke jaringan di sekitarnya. Permukaan kulit utuh dan biasanya terjadi kerusakan pada jaringan di bawah kulit. Luka memar kadangkala memberikan gambaran bentuk benda penyebabnya, misalnya jejas beban yang sebenarnya adalah suatu perdarahan tepi (Marginal Haemorrhage). (1,2,3)





Memar pada suatu tempat tidak selalu mengindikasikan lokasi terjadinya trauma karena perdarahan akan mengalir ke jaringan yang lebih longgar dan dipengaruhi oleh gaya gravitasi. Misalnya, kekerasan benda tumpul pada dahi menimbulkan hematom palpebra. Juga kekerasan benda tumpul pada paha dengan patah tulang paha menimbulkan hematom pada sisi luar tungkai bawah.(1,3)

Memar yang dalam mungkin tidak bisa terlihat melalui pemeriksaan luar sehingga kadang dibutuhkan insisi jaringan lunak untuk memastikan ada/tidaknya memar. Memar juga sulit dinilai pada orang berkulit hitam. (3)

Kontusio tidak hanya terjadi di kulit namun juga dapat terjadi pada organ dalam seperti paru-paru, jantung, otak, dan otot. Bahkan kadang memar tidak bisa terlihat kecuali beberapa jam setelah korban meninggal. Memar pada kulit kepala sering tidak terlihat kecuali jika ada pembengkakan.(3)

Umur luka memar secara kasar dapat diperkirakan melalui perubahan warnanya. Pada saat timbul, memar berwarna merah, kemudian berubah menjadi ungu atau hitam, setelah sampai 4-5 hari akan berwarna hijau yang kemudian akan berubah menjadi kuning dalam 7-10 hari, dan akhirnya menghilang dalam 14-15 hari. Perubahan tersebut berlangsung mulai dari tepi dan waktunya dapat bervariasi tergantung tingkat keparahan, kedalaman jejas, warna kulit, dan berbagai faktor lainnya. Sehingga tidak ada standar baku untuk menentukan waktu perlukaan berdasarkan perubahan warna.(1,3)

Hematom ante-mortem yang timbul beberapa saat sebelum kematian biasanya akan menunjukkan pembengkakkan dan infiltrasi darah dalam jaringan sehingga dapat dibedakan dari lebam mayat dengan cara melakukan penyayatan kulit. Pada lebam mayat (hipostasis pascamati) darah akan mengalir keluar dari pembuluh darah yang tersayat dan sehingga bila dialiri air, penampang sayatan akan tampak bersih, sedangkan pada hematom penampang sayatan akan tetap berwarna merah kehitaman. Tetapi, harus diingat bahwa pada pembusukan juga terjadi ekstravasasi darah yang dapat mengacaukan pemeriksaan ini.(1)

2. Luka Lecet (Abrasi)

Luka lecet terjadi akibat cedera pada epidermis berupa robeknya jaringan yang bersentuhan dengan benda yang memiliki permukaan kasar atau runcing, misalnya pada kejadian kecelakaan lalu lintas, tubuh terbentur aspal jalan, atau sebaliknya benda tersebut yang bergerak dan bersentuhan dengan kulit. Luka bersifat superfisial yang terbatas hanya pada lapisan kulit yang paling luar / kulit ari epidermis.(1,2,3)


Ciri-Ciri Luka Robek (2) :

  • Umumnya tidak beraturan
  • Tepi atau dinding tidak rata
  • Tampak jembatan jaringan yang menghubungkan kedua tepi luka
  • Bentuk dasar luka tidak beraturan
  • Ujung luka tidak runcing
  • Akar rambut tampak hancur atau tercabut
  • Sering didapatkan luka lecet atau memar di sisi luka

Pembagian Luka Lecet (1,2) : 


  • Luka lecet gores (Scratch)
  • Luka lecet gesek / serut (graze)
  • Luka lecet tekanan (impression,impact abrasion)
  • Luka lecet geser (friction abrasion)
A. Luka Lecet Gores (Scratch)

Luka lecet gores merupakan luka lecet yang diakibatkan oleh benda runcing (misalnya kuku jari yang menggores kulit) yang menggeser lapisan permukaan kulit (epidermis) di depannya dan menyebabkan lapisan tersebut terangkat sehingga dapat menunjukkan arah kekerasan yang terjadi.(1)


Kasus Penganiayaan di Salah Satu RS di Makassar

B. Luka Lecet Gesek / Serut (Graze)

Variasi dari luka lecet gores yang daerah persentuhannya dengan permukaan kulit lebih lebar. Arah kekerasan ditentukan dengan melihat letak tumpukan epitel.(1)


C. Luka Lecet Tekan

Luka lecet tekan disebabkan oleh penjejakan benda tumpul pada kulit. Karena kulit adalah jaringan yang lentur, maka bentuk luka lecet tekan belum tentu sama dengan bentuk permukaan benda tumpul tersebut, tetapi masih memungkinkan identifikasi benda penyebab yang mempunyai bentuk khas misalnya kisi-kisi radiator mobil, jejas gigitan dan sebagainya. Luka akibat gigitan (bite-mark) sering juga diklasifikasikan sebagai luka akibat kekerasan benda setengah tajam. (1)


Korban Kasus Penganiayaan Akibat Gigitan

Gambaran luka lecet tekan yang ditemukan pada mayat adalah daerah kulit yang kaku dengan warna lebih gelap dari sekitarnya akibat menjadi lebih padatnya jaringan yang tertekan serta terjadinya pengeringan yang berlangsung pasca mati.(1)


D. Luka Lecet Geser

Luka lecet geser disebabkan oleh tekanan linier pada kulit disertai gerakan bergeser, misalnya pada kasus gantung atau jerat serta pada korban pecut. Luka lecet geser yang terjadi semasa hidup mungkin sulit dibedakan dari luka lecet geser yang terjadi segera pasca mati.(1)



3. Luka Robek

Merupakan luka terbuka akibat trauma benda tumpul, yang menyebabkan kulit teregang ke satu arah dan bila batas elastisitas kulit terlampaui, maka akan terjadi robekan pada kulit. Luka ini mempunyai ciri(1) :

  • Bentuk luka yang umumnya tidak beraturan
  • Tepi atau dinding tidak rata
  • Tampak jembatan jaringan antara kedua tepi luka
  • Bentuk dasar luka tidak beraturan
  • Sering tampak luka lecet atau luka memar di sekitar luka.

4. Fraktur

Fraktur pada daerah mandibula, maxilla, zygoma, dan arkus zygomaticus oleh karena tindak kekerasan maupun karena kecelakaan lalu lintas. Semuanya bisa hancur sekaligus hanya dalam satu kali tumbukan. Fraktur maxilla biasanya dikaegorikan menjadi 4 macam : Fraktur Dentoalveolar, Fraktur Lefort I, Fraktur Le Fort II, Fraktur Le Fort III, Fraktur Sagital. Fraktur juga dapat terjadi pada tulang-tulang ekstremitas baik karena tumbukan langsung maupun tumbukan tidak langsung.( 3)

Cedera pada leher (Whiplash Injury) dapat terjadi pada penumpang kendaraan yang ditabrak dari belakang. Penumpang akan mengalami percepatan mendadak, sehingga terjadi hiperekstensi kepala yang disusul dengan hiperfleksi. Cedera terjadi terutama pada ruas tulang leher keempat dan kelima yang membahayakan susmsum tulang belakang. Kerusakan pada medula oblongata dapat berakibat fatal. Timbulnya cedera leher ini juga dipengaruhi oleh bentuk sandaran tempat duduk.(1)





Referensi :

  1. Bagian Kedokteran Forensik FKUI. 1997. Ilmu Kedokteran Forensik. hal. 37-43
  2. Achmad, Djumadi. 2010. Bahan Kuliah Forensik dan Medikolegal FK Unhas 2010
  3. Di Maio, Vincent J, Dominick Di Maio. 2001. Forensic Pathology Second Edition. CRC Press : New York p. 89-224

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Pages